Why must there be a raise??

My writing will be short. My question is simple :

Mudik is a tradition and a need for most of us, especially for those who are far away from hometown. To travel, we have 2 choices, get on public transportation such as bus, train, ship, airplane – or by private vehicles.

When we choose to use a public transportation. We will experience the same hard thing every year, which is tusla. Why must there be a tusla (transport fee on iedul fitri)?? It can empty our pockets!

I understand that governments need more efforts to provide the services; the maintenance things, the fuel prices things, etc. But I think it’s way too expensive. No wonder that people choose to go with their own vehicles, whether it’s car or even motorcycles. No wonder that people are willing to jostle and thrust through the crowd to get seats in economic trains. They’ll do anything to have the less expensive way to travel. Anything to gather with their family in town and anything to be back to metropolitan city to work.

Well, others say that because people get an extra salary while iedul fitri. (I know, perhaps their answers are only teasing me)
But..but..but, we, students, don’t get any!

I’ll take an example of train ticket’s price :

Mutiara Selatan : 130.000 –> 150.000 – 225.000

Argo Wilis : 210.000 –>250.000 – 400.000

Turangga :  230.000 –> 250.000 – 400.000

See, the tickets are getting higher but our pocket money is just so so. I can conclude, students are the ones who suffer the most when tusla is being applied.. -__-

Iklan

Rizal Ramli ke itb

Dr. Rizal Ramli dalam Kuliah Umum Akhir SemesterSeiring Kebangkitan Nasional,,,

Jumat (16/5) Dr. Rizal Ramli memberikan Kuliah Umum Akhir Semester dengan mengangkat tema “Percepatan Deindustrialisasi vs Strategi Industrialisasi dengan Nilai Tambah”. Kuliah Umum ini diadakan oleh STEI ITB di Aula Timur.

Acara dibuka dengan sambutan dari Wakil Ketua Rektor Bidang Akademik, Prof Dr. Adang Surachman lalu dilanjutkan dengan pemutaran film pendek berisi profil pembicara yang bertajuk “Dr. Rizal Ramli, Sang Penerobos”. Film pendek tersebut bercerita mengenai sepak terjang Pak Rizal Ramli di pergulatan politik dan pemerintahan Indonesia.

Kuliah dan diskusi berlangsung dipandu oleh Prof.Dr. Adang Suwandi Ahmad, Dekan STEI. Dalam kuliah singkatnya Pak Rizal Ramli menekankan bahwa bangsa Indonesia harus berjuang dengan kemampuan sendiri untuk menyelamatkan ekonomi Indonesia. Kita sendiri yang harus menentukan sikap dan langkah untuk maju, termasuk dalam bidang industri. Tidak seharusnya bangsa ini bergantung pada bantuan asing. “Pinjaman asing itu bukan murni untuk menyelamatkan ekonomi kita melainkan untuk menyelamatkan bank-bank asing!” tegas Pak Rizal Ramli.

Tak ketinggalan, Pak Rizal Ramli juga menyinggung permasalahan kenaikan harga BBM. Menurut Mantan Menko Perekonomian ini, ada beberapa cara lain untuk menyelamatkan anggaran negara, yaitu dengan mengurangi subsidi kapital ke bank, melakukan devaluasi atau menurunkan nilai mata uang secara sengaja untuk mempermurah harga jual barang ekspor dan menaikkan harga jual barang impor sehingga produksi dalam negeri terlindungi. “Masalahnya, selama ini Kita dicekoki bahwa presiden yang baik adalah presiden yang mampu mempertahankan atau bahkan menguatkan nilai mata uang. Padahal baik buruknya kinerja presiden seharusnya dilihat dari ketersediaan lapangan kerja dan seberapa banyak rakyat yang memperoleh pekerjaan” tambahnya. Selain dua hal itu, beliau juga menyarankan penguatan machinery industry. Jadi bukan sekadar industri pengolahan bahan baku dengan membeli mesin dari luar negeri melainkan membuat mesin sendiri untuk mendukung proses produksi.

Masih berkaitan dengan bagaimana mempercepat industrialisasi, Mantan Ketua Bulog di jaman Gus Dur ini secara tegas mengatakan bahwa pemerintah tidak boleh memiliki mental mahasiswa kos-kosan, yaitu mental berhutang dan menjual apa yang ada saat kehabisan uang. Pemerintah harus memiliki visi industrialisasi dan hal ini tidak boleh diserahkan ke mekanisme pasar. “Kita ini pasti bisa melakukan industri! Syaratnya, kita tidak boleh hanya berpikir sebagai engineer tetapi pertimbangkan juga manajemen dan pembiayaan serta tentu saja tidak boleh melupakan team work. ITB harus menjadi ujung tombak perubahan!” tandas Ketua Umum Komite Bangkit Indonesia tersebut.

(versi murni belum diedit, klo yang udh diedit ya ad di web itb)

Itulah berita terbaru yang Q tulis bwt itb.ac.id. Q kasih judul “Berguru kepada Sang Penerobos”. Q uplot hari itu juga. Sebenernya Q agak menyesal ga all out pas cari berita. Knapa ga sekalian wawancara ya… damned. Entah knapa smangat bgt dh nulis tuh berita, apalagi pak rizal sempat ngbahas kenaikan BBM. Wiii..seru. Q bharap nie berita bisa bwt referensi KM untuk ngajuin sikap & rekomendasi kpd pmerintah ttg penolakan knaikan BBM Juni ntar.